pojokdepok.com -, Managing Director Paramidana Public Policy Institute (PPPI) Achmad Khoirul Umam menyorot manuver Partai Amanat Nasional (PAN) dalam isu reshuffle kabinet dan penundaan Pemilu 2024.
Achmad menilai, sikap PAN terhadap wacana penundaan Pemilu 2024 berkaitan dengan wacana reshuffle kabinet. Dia mengatakan, reshuffle kabinet bisa saja terjadi dan PAN akan mendapat jatah kursi di Kabinet Indonesia Maju. Hal ini sebagai kompensasi atas sikap PAN yang ikut mengusulkan penundaan Pemilu 2024. Sebab, Presiden Jokowi tegas akan patuh terhadap konstitusi.
“Jika benar posisi menteri atau wamen (wakil menteri) diberikan kepada PAN pada reshuffle kabinet mendatang sebagai kompensasi atas “ketundukannya” pada operasi politik penundaan Pemilu 2024, maka hal itu sebenarnya mengonfirmasi bahwa operasi politik ini memang dijalankan oleh elemen kekuatan di lingkaran presiden, ” ucapnya ketika dihubungi pojokdepok.com –, Kamis (10//3/2022).
baca juga:
Umam mengatakan, kalau analisisnya benar terjadi maka PAN akan kehilangan identitas. Mengingat, PAN adalah partai kelahiran Reformasi. Dia menyebut sikap Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan (Zulhas) yang secara gamblang menyatakan setuju terhadap penundaan Pemilu 2024 ibarat ‘kerbau yang dicocok hidungnya’.
“Jika benar kepentingan PAN hanya sesederhana itu, hal itu sangat patut disayangkan. Hanya demi jabatan di pemerintahan, kredibilitas ketua umumnya rela dikorbankan dan “dicokok hidungnya” demi kepentingan ekonomi-politik sempit yang tidak memiliki justifikasi argumen yang jelas,” kata Umam.
“Di sisi lain, PAN sendiri dilahirkan oleh gerakan Reformasi 1998. Jika kini langkah-langkah politiknya justru menabrak nilai-nilai dasar Reformasi, maka hal itu menjadi tanda kemunduran PAN secara fundamental. PAN yang dulu ideologis, kritis, dan menjadi mesin politik cerdas yang merepresentasikan kelompok menengah terdidik warga Muhammadiyah, kini tak ubahnya menjadi representasi kekuatan pragmatisme dan oportunisme belaka,” sambungnya.
Jika melihat situasi PAN seperti ini, tentunya akan menguntungkan parpol lain yang memiliki akar sosial yang sama dari segmen warga Muhammadiyah seperti Partai Ummat besutan Amien Rais dan Partai Pelita besutan Din Syamsuddin.
“Semakin sering PAN melakukan blunder politik, semakin besar peluang warga Muhammadiyah berubah menjadi swing voters. Jika swing voters dan undecided voters menguat di lingkungan politik warga Muhamadiyah, maka peluang Partai Ummat dan Partai Pelita untuk mengonsolidasikan basis pemilih loyalnya dari kalangan Muhammadiyah akan semakin terbuka,” imbuh Umam.
“Di level ini, nalar kritis dan literasi politik warga Muhammadiyah akan diuji. Masihkah mesin besar politik Muhammadiyah yang bernama PAN layak untuk dipertahankan dan dipilih kembali? Ataukah akan terjadi eksodus basis pemilih Muhammadiyah ke partai-partai baru seperti Partai Ummat dan Partai Pelita, yang dilahirkan dari proses faksionalisme di internal lingkungan politik Muhammadiyah secara general, ” tutup Umam.[]

