Amien Sebut Jokowi Memiliki Sindrom Narsistik, Teddy Beri Komentar Menohok

pojokdepok.com -, Mantan Politisi Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) Teddy Gusnaidi mengomentari video pernyataan Ketua Majelis Syuro Partai Ummat, Amien Rais yang diunggah dalam akun YouTube pribadinya Amien Rais Official.

Dalam video, Amien menilai Jokowi sebagai sosok narsis serta merasa paling benar hingga haus perhatian masyarakat. Namun, Teddy beranggapan hal tersebut justru sangat cocok pada diri Amien.

“Amien menyindir Jokowi memiliki sindrom narsistik, yaitu merasa paling benar dan sindrom megalomaniak yaitu haus akan perhatian,” kata Teddy dalam akun twitter pribadinya @TeddGus, pada Minggu (3/4/2022).

baca juga:

“Padahal sindrom ini begitu melekat pada dirinya yang merasa paling benar dan haus akan perhatian dengan membuat statement yang aneh-aneh,” sambungnya.

Selain itu, Teddy mengungkapkan jika Amien seolah-olah memahami tentang penyakit kejiwaan ini. Namun, lagi-lagi Teddy menyebut Amien kerap kali melakukan hal seperti yang disebutkan olehnya sendiri.

“Amien Rais begitu mengerti soal penyakit kejiwaan ini, sehingga ‘mengajak’ Pak Jokowi menjadi member penyakit ini. Amien Rais yang juga Ketua Majelis Syuro Partai Ummat kalau lagi kumat suka aneh-aneh, udah kayak member yang sedang mempromosikan program Member get member,” imbuhnya.

Sebagai informasi, Amien Rais mengkritik rezim Jokowi dan Menteri Koordinator Maritim dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan sebagai rezim yang ugal-ugalan.

Kritikan itu disampaikan Amien Rais melalui video yang diunggah di akun YouTube Amien Rais Official dengan judul ‘DUET JOKOWI LUHUT TIDAK KITA PERLUKAN LAGI’. Video itu diposting pada Sabtu (2/4/2022).

“Daripada saya bicara dalam rangka membayangkan oknum tertentu, lebih baik saya landing saja realitas politik kita sekarang ini duet Jokowi-Luhut yang saat ini menjadi simbol dan substansi rezim yang berkuasa saat ini bahwa sesungguhnya harus berakhir pada Oktober 2024,” kata Amien.

“Jadi, selain itu, tidak boleh lagi dua oknum ini lantas menggerakkan berbagai cara, tekad ala Orde Baru itu, kita masih terngiang-ngiang rakyat kita dibodohi, tapi kadang ditekan, diancam untuk mengegolkan tujuan politik yang sesungguhnya jahat, political crime,” pungkasnya.[]